SRAGEN, 21 Maret 2026 – Rumah sederhana di Desa Natah, RT/RW 001/000, Sidokerto, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, mendadak ramai dan penuh kehangatan. Lebaran tahun ini menjadi momen paling istimewa bagi Bapak Suradi , seorang penjahit bersahaja, dan Ibu Pujiyati, istrinya tercinta. Setelah delapan tahun lamanya terpisah oleh jarak dan tugas negara, mereka akhirnya bisa berkumpul lengkap dengan kelima buah hati dalam kondisi sehat walafiat.

Kisah Bapak Suradi adalah potret perjuangan seorang ayah yang tak pernah lelah membesarkan keluarga dengan keringat dan doa. Di balik mesin jahitnya, ia merajut mimpi dan harapan, memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Sementara Ibu Pujiyati dengan setia mendampingi, menjadi pilar keluarga yang tak tergoyahkan. “Alhamdulillah, Ya Allah. Setelah sekian tahun, akhirnya kami bisa merayakan Lebaran bersama anak-anak. Dulu, hanya bisa melihat mereka lewat video call, sekarang bisa memeluk langsung. Ini adalah kebahagiaan yang tak ternilai harganya,” ucap Bapak Suradi dengan suara bergetar, air mata haru membasahi pipinya. Kebahagiaan keluarga ini semakin lengkap dengan kesuksesan kelima anak mereka: Kopda Muhammad Makruf, putra pertama yang gagah berani mengabdi di Yonif 828.​

Praka Muhammad Mohtar Arifin, prajurit setia yang bertugas di Yonif 408 Suhbrasta.

Muhammad Davit Tri Setiawan, yang berdedikasi di Yonif Armed 3 Naga Pakca.​

Muhammad Harun Arrosit, seorang pengusaha konveksi sukses yang meneruskan jejak orang tua.​

Annisa Zarotul Khotimah, yang juga seorang pengusaha konveksi yang mandiri. Kehadiran ketiga putra yang berprofesi sebagai prajurit TNI menambah semarak suasana Lebaran di Desa Natah. Setelah sekian lama bertugas di berbagai pelosok negeri, mereka akhirnya bisa kembali ke pangkuan orang tua, membawa serta cerita perjuangan dan pengabdian yang membanggakan.

Muhammad Makruf, sebagai anak, mengungkapkan perasaannya yang mendalam. “Sebagai seorang prajurit, tugas negara adalah prioritas. Namun, sebagai seorang anak, hati ini selalu merindukan Bapak dan Ibu. Bisa berkumpul di hari raya seperti ini adalah anugerah yang tak ternilai harganya. Ini adalah momen yang paling kami syukuri,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Muhammad Davit Tri Setiawan pun tak kuasa menahan haru. “Selama ini, kami hanya bisa bertukar kabar lewat telepon atau video call. Rasanya berbeda sekali bisa memeluk Bapak dan Ibu secara langsung. Semua pengorbanan mereka, semua doa mereka, terbayar lunas hari ini. Melihat senyum mereka, itu sudah cukup bagi kami,” tuturnya dengan suara bergetar.

Namun, momen yang paling mengharukan adalah ketika Praka Muhammad Mohtar Arifin menyampaikan ungkapan hatinya. Dengan derai air mata yang tak terbendung, ia berkata, “Ini adalah Lebaran terindah dalam hidup saya. Melihat Bapak dan Ibu sehat, bahagia, dan bangga dengan kami, air mata ini tidak bisa berhenti menetes.

Perjuangan mereka membesarkan kami dengan penuh kasih sayang telah membuahkan hasil yang luar biasa. Semoga kami bisa terus membahagiakan mereka dan membalas semua jasa-jasanya.” Kisah keluarga Bapak Suradi adalah cerminan dari keteguhan, kesabaran, dan cinta kasih yang tak pernah padam. Lebaran tahun ini menjadi bukti nyata bahwa ikatan keluarga adalah harta yang paling berharga, dan kebahagiaan sejati adalah ketika bisa berkumpul bersama orang-orang tercinta dalam keadaan sehat dan sejahtera. Sebuah kisah inspiratif yang mengingatkan kita akan pentingnya menghargai setiap momen kebersamaan dengan keluarga.

penulis : rendi dopper